“Forgive me!”
Tak ada kisah
tentang cinta yang bisa terhindar dari air mata
Namun ku coba
menerima hati ku membuka
Siap untuk
terluka
Cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati
Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga hidupku pun berarti
Cinta tak mudah berganti, tak mudah berganti jadi benci
Walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati
Jatuhkan hatiku kepadamu sehingga hidupku pun berarti
Cinta tak mudah berganti, tak mudah berganti jadi benci
Walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati
Walau seharusnya bisa saja dulu aku menghindar
Dari pahitnya cinta
Namun ku pilih begini, biar ku terima
Sakit demi jalani cinta (cinta)
Dari pahitnya cinta
Namun ku pilih begini, biar ku terima
Sakit demi jalani cinta (cinta)
~tangga
Lagu itu terlantun
dengan merdu di laptopku, aku berdiri di samping jendela memandangi hujan yang
tak henti-henti. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.
“heyyy...ngegalau mulu neehh!!”
katanya.
“ahh elu tes..ngagetin aja”
Tessa, ia temanku
sejak SMP, dan sekarang kami bekerja
satu kantor di sebuah perusahaan periklanan. Kami sudah berteman sejak lama,
persahabatan kami sudah berjalan selama 10 tahun lebih, jadi jangan heran jika kami
lebih terlihat seperti saudara. Kami tinggal di apartemen yang kami beli
bersama dengan cicilan uang gaji kami, sejak SMA kami memang sudah hidup
mandiri jauh dari orang tua. Itu juga yang membuat kami lebih sering berbagi.
“biyar gue tebak, pasti kali ini
gara-gara si bule yang ngejar-ngejar lu itu ya? Siapa namanaya, marco? ”
tanyanya menggoda.
“iihh apaan sihh tessa, bukan gue lagi
kepikiran sama anu..”
“aduuhh Aletta ku sayang, lu belum bisa
lupain dia juga? Udah hampir 7 tahun loohh let?”
“iya 7 tahun, 7 tahun juga gue
terbelenggu dalam sebuah kesalahan yang tak termaafkan.”
Anugrah, anu itu
panggilannya, dia pacar pertamaku, dan mungkin juga cinta pertamaku. 7 tahun
yang lalu kami pernah menjalin hubungan, pacaran tepatnya. Kami berawal dari
backstreet sampai terang-terangan. Sayangnya hubungan kami tak berlangsung lama
hanya bertahan sekitar setengah tahun. Aku telah mengkhianatinya, dan aku tau
itu kesalahan fatal yang pernah ku perbuat. Aku telah memutuskannya tanpa alasan
apapun, padahal aku memiliki alasan tersendiri namun aku tak mampu bercerita
kepadanya. Mungkin itu yang membuatnya sampai sekarang belum bisa menerimaku
lagi bahkan sebagai teman. Waktu itu, kami telah jadian 2 bulan sebelum anu
mempublikasikan hubungan kami dan itu berjalan baik-baik saja tenang, mengalir
apa adanya, tanpa masalah berat, sampai pada suatu ketika sahabatku, sekaligus teman
dekatku waktu SMP Vera, dia memberiku sepucuk surat. Surat itu intinya berisi
bahwa ia juga mencintai anu, namun dia bilang dia sudah merelakannya untukku.
Dalam hati aku sedikit lega. Namun beberapa hari selanjutnya, masalah itu pun
terjadi. Entah setan apa yang ada dalam dirinya sehingga ia berhasil
menghasutku untuk memutuskan anu. Anu memberikan sepucuk surat untukku, namun
surat itu yang membalas bukan aku, Veralah yang
membalasnya dengan tulisan di bawah dengan huruf kapital “KITA PUTUS”. Semenjak kejadian itu aku dan anu lost contact, aku merasa bersalah dan sampai
sekarang perasaan bersalah itu masih ada. Ia terus menghantuiku entah tak tau
sampai kapan.
“udahlahh let, gak usah terlalu
dipikirin, nanti malah jadi beban buat hidup lu” tessa merangkulku.
“gue udah coba tes, tapi tetep aja gak bisa, gue udah coba move
on, namun itu hanya akan bersifat sementara, selebihnya??? Kembali
memikirkannya lagi..”
“mungkin rasa bersalah itu yang buat
gue belum bisa lepasin dia” lanjutku.
“ya udah lu sabar aja, selama ini kan
juga lu udah usaha”
“tapi nihil hasilnya, kesalahan gue tu
fatal banget ya? Sampai-sampai gue gak layak buat di maafin?” air mataku
membanjiri pipiku.
Tessa memelukku, ia mencoba
menenangkanku.
“mungkin klo gue dah mati dia baru
maafin gue,, hah gak tau apa dia? gue begitu tersiksa dengan perasaan ini?” air mataku terus mengalir.
“hush lu tu ya ngomongnya mulai
ngawurr.. gak boleh gitu ahh”
Bel apartemen
perbunyi. Tessa beranjak untuk membukakan pintu. Ternyata johan, pacar tessa yang datang berkunjung. Ia membawakan satu lusin donat j.co makanan favorit kami. Tessa menceritakan
semua masalahku kepada johan, dan johanpun berniat untuk membantuku, johan juga
teman SMP kami, ia pernah dekat dengan anu dan setidaknya hubungan pertemanan
mereka tidak putus begitu saja.
Bebrapa hari
kemudian, johan memberi kabar kepada tessa bahwa anu akan datang ke Jakarta
untuk workshop di sebuah hotel. Dan kebetulan ia menghubungi johan, johan pun
tak melewatkan kesempatan ini.
Weekend, hari yang selalu aku tunggu-tunggu, bebas dari tumpukan-tumpukan
kertas tak jelas, bebas dari kemacetan di jalan dan yang penting aku bisa tidur
seharian penuh di kamar apartemenku. Sayangnya, hari istimewaku kali ini
dikacaukan oleh tessa yang tumben-tumbennya dia ngajak aku makan di luar, dia
bilang si pengen ngemol, refresing, padahal jelas-jelas dia tau, aku paling gak
suka yang namanya jalan-jalan ke mol, muter-muter di pusat perbelanjaan memilih-milih
baju, sepatu, accesoris, yang ramai orang lalu lalang. Aku lebih suka berdiam
diri di kamar, baca buku, main game online, atau nonton film dari dvd bajakan
yang harganya gak bikin kantong bolong, atau kalaupun refresing aku lebih suka
ke tempat-tempat yang sejuk dengan pemandangan yang bisa dibilang mencuci mata
dan otak. Ini, ke mol sama aja bagiku, mataku lelah melihat keramaian. Dengan
terpaksa aku penuhi kemauannya,
“tuuhh kan
tess, macet.. lagian ngapain sih lu ngajakin gue ke mol, bukan biasanya lu
jalan sama johan ya?” gerutuku dibalik kemudi.
“ahh letta
jangan ngedumel mulu dong, gue itu berniat baik, ngajakin lu refresing, dari
pada murung gak jelas dikamar..” balasnya dengan senyum sok manisnya itu.
“terserah
dehh,”
“hmm yah
letta, nanti gue beliin novel-novel baru yang lagi lu pengin itu dehh..”
bujuknya.
“hahaha
beneran ya... gue tagih nanti..”
“iyaaa..
sayang..” sambil mencubit pipiku.
Sampai di mol, tessa mengajakku untuk makan es krim di kedai es krim
favorit kami, aku memesan Sundays strawberry dan tessa memesan es krim bronis.
Matanya selalu mengarah ke pintu masuk seakan ada seseorang yang ia tunggu.
“tess, lu
nyariin siapa sih? Kaya lagi nunggu seseorang? Johan ya?” Tanya ku.
“ah.. eh..
eng.. enggak,” jawabnya sedikit gagap.
“aiihh
mencurigakan..!!”
Tessa hanya nyengir. Belum lama dari itu, orang yang mungkin ditunggunya
datang juga, Johan, hah benar ternya fikiranku dari tadi, “tessa janjian
sama johan, trus ngapain dia ngajak gue?” namun johan tak sendiri, ia
bersama orang yang aku kenal, anu. Mendadak badanku panas dingin melihat sosok
makhluk itu di hadapanku. Aku yang tadinya bawel, cerewet mendadak menjadi
pendiam. Apakah ini rencana tessa? Ahh seribu kata-kata telah aku siapkan untuk
memaki-makinya di kamar nanti. Kenapa ia tak membicarakannya kepadaku terlebih
dahulu? Aduuhh tessa!!! Rasanya aku ingin meledak. Kau lebih dari mengacaukan
hari liburku.
“tessa..!!”
panggil johan. Tessa melambaikan tangan.
“hai, jo..
hai anu.. apa kabar?”
“baik..”
jawab anu singkat, wajahnya terlihat sangat tidak senang.
“eh, let,
tumben-tumbenan lu mau ikut ngemol, biasanya aja ngurung diri di kamar, baca
buku, atau main game?” sapa johan kepadaku yang dari tadi diam menunduk.
“dengan
sedikit sogokan, gak tau apa dari tadi dijalan ngedumel mulu, mrepet kaya
petasan..” balas tessa.
Johan tertawa terbahak, seolah ia tau mimic wajahku ketika aku marah-marah.
Dan aku hanya tersenyum kecut kepada mereka bertiga. Keadaan kembali hening,
dari tadi yang berusaha mencairkan suasana hanya tessa dan johan. Sementara aku
dan anu sama-sama diam tanpa kata.
“eh, kok jadi
kaku gini sih? Gue kan niatnya ngajakin seru-seruan hari ini.. kayak dulu,”
kata johan memecah suasana. Namun tak ada yang menimpali omongannya.
“gue ke toilet
dulu ya..” aku mohon ijin pada mereka dan berlalu pergi.
Entah aku sendiri tak tau apa yang sedang aku pikirkan, mendadak diam
seribu bahasa di hadapannya. Aku tak tau bagaimana aku harus memulai kisah yang
sebenarnya tak pernah kita akhiri itu. Aku hanya mencuci kedua tanganku yang
tak kotor, bercermin sebentar lalu kembali ke kedai. Namun saat sampai disana
hanya ada anu sendiri yang sedari tadi diam juga di tempat duduknya.
“yang lain
pada kemana?” tanyaku pada anu.
“ke toko
buku” jawabnya singkat. Dingin sekali tatapannya, berbeda dengan dulu, dan aku
merindukan itu.
“emm nu,” aku
mulai memberanikan diri untuk bicara.
“a..
aaa..kk.. aakku, aku.. mau minta maaf, aku tau aku salah, aku meninggalkannmu
tanpa alasan, tapi sebenernya...” aku menunduk, air mataku kembali membasahi
pipiku, dan anu menatapku tajam.
“kemana aja
lu? Tujuh tahun let, baru sekarang lu minta maaf ke gue? Gue udah salah nilai
lu let.” Balasnya.
“tapi aku
punya alasan, kenapa aku ngelakuin itu..”
“apa? ceritakan!”
anu menatapku lebih tajam. Pandangan itu, tak pernah aku lihat sebelumnya.
Aku hanya
diam.
“Cuma alibi
kan let? Buktinya lu gak mampu bicara di depan gue!”
“ok, semua
salah gue, tapi apa lu juga gak pernah merasa bersalah dengan cara lu ngediemin
gue kaya gini? gue udah berusaha minta maaf ke lu, tapi lu gak pernah ada
respone sedikitpun, gak ada..! gue kirim sms minta maaf berkal-kali tapi lu gak
pernah bales, di facebook, gue messege, jangankan bales lu baca pun enggak kan?
Dan lu juga gak pernah tau kan betapa tersiksanya gue dengan rasa bersalah itu,
tujuh tahun terus menghantui gue? Lu gak tau kan?! Ahh mungkin ini dosa
terbesar gue ke lu sehingga lu gak mau maafin gue, yahh semua gue yang salah
dan lu benar!” aku berlalu begitu saja meninggalkan anu dengan air mata yang
terus membanjiri pipiku.
Anu yang melihat reaksiku hanya terdiam tertunduk lemas, dimatanya terlihat
sebuah penyesalan, tak menyangka aku akan meledak seperti itu. Sementara itu,
dua sejoli tessa dan johan yang baru saja kembali dari toko buku, tak sengaja
melihatku keluar dari kedai es krim dengan berlinangan air mata. Tessa
buru-buru menyusulku dan johan berlari ke kedai.
Aku melajukan mobilku dengan kecepatan maksimum dan kembali ke apartemen,
tessa yang disampingku terlihat sangat ketakutan melihatku mengendarai mobil seperti
itu. Syukurnya tuhan masih berpihak pada kami, kami sampai diapartemen dengan
selamat.
Aku membenamkan wajahku di balik bantal, dengan air mata yang tak
henti-henti mengalir, tessa sampai bingung bagaimana ia harus menenangkan aku.
Sementara itu johan dan anu masih
terdiam di kedai, anu bercerita pada johan tentang apa yang terjadi antara aku
dan dia.
“jo, gue gak
salahkan? Gue cuma pengen dia sadar, kalau kelakuannya itu keterlaluan banget!”
kata anu membela diri.
“maksud lu
keterlaluan gimana?” Tanya johan heran,
“lu inget
vera kan? Sahabat dekatnya waktu SMP, tega-teganya dia fitnah vera, bahwa
veralah yang membujuk dia buat mutusin gue, ya intinya vera biang keroknyalahh
bagi dia, parahnya lagi gue baru tau kelakuan busuknya letta di belakang gue,
vera udah cerita semuanya ke gue,” jelas anu. Johan hanya manggut-manggut, ia
sedang mencerna baik-baik maksud dari kata-kata anu barusan.
“terus,” kata
johan ingin tau.
“vera juga
pernah cerita , letta selingkuh sama sodaranya vera yang kakak kelas kita itu
loohh namanya Prass. Dan dia lebih milih prass dari pada gue. Gue bener-bener
gak nyangka.”
“gue bingung
deh nu, apa yang lu ceritain ke gue itu bertolak belakang banget dengan apa
yang letta ceritain ke gue, gue emang gak deket sama letta waktu SMP, tapi
setidaknya gue jauh lebih mengenal dia selama ini, dan gue tau letta bukan
orang yang seperti itu. Gue dan tessa berani jadi saksi, betapa tersiksanya dia
dengan rasa bersalahnya itu, gue juga tau dia berkali-kali minta maaf via sms
atau jejaring social yang lu punya. Sayangnya, gak ada respone dari lu nya, dan
itu membuat dia merasa tertekan. Dia pengen move on nu, tapi dia belum bisa
dengan alasan dia akan menyelessaikan apa yang telah dia mulai alias masalahnya
dengan lu, bahkan banyak cowok yang datang ke dia, sayangnya hatinya tak pernah
terbuka. Sekarang letta lebih menutup diri, gak kaya dulu, dan dia hanya bisa
tertawa lepas, bebas berekspresi ketika lagi bareng-bareng gue sama tessa. Gue
sama tessa tau banget gimana letta.” Tukas
johan.
“eh tunggu,
berarti lu sama vera?” lanjutnya.
“iya gue sama
vera sempet jadian, bahkan sampai sekarang gue masih sering jalan bareng sama
dia,” kata anu.
“hahaha..
harusnya lu tau boy, mana yang baik dan mana yang buruk, buka mata dan hati
lu!”
Anu hanya diam, ia makin tak mengerti apa yang dibicarakan johan.
Percakapan berlanjut sampai mereka tiba di kamar kost johan, dan johan telah
menceritakan semua yang letta ceritakan, kepada anu. Anehnya, semua pesan yang
letta kirim ke anu tak pernah sampai kepadanya, satupun tak ada. Dari sini
johan menemukan kejanggalan.
Di kamar apartemen, tessa terus menghiburku dengan berbagai cara. Kini ia
sedang berdiri di sudut jendela entah aku tak tau ia berbicara dengan siapa di
balik sana, pikiranku kacau berkat insiden tadi siang di kedai, hati dan otakku
tak berfungsi, aku bagai orang yang frustasi, terlihat sangat berantakan,
seberantakannya hatiku hari ini.
Tessa terus mengamatiku dari jauh sambil berbincang di ponselnya, ia
terlihat hikmat mendengarkan seseorang yang ada di balik sana. Johan
menceritakan semua yang terjadi hari ini kepada tessa lewat percakapan dalam
telepon itu.
Esoknya aku merasa sedikit lebih baik, aku mengemasi bebrapa pakaianku, aku
beriat untuk mengambil cuti bebrapa hari
untuk refresing ke puncak, aku ingin menenangkan hati dan pikiranku.
“lu yakin
let, gak perlu gue temenin?”
“iya tes,
yakin.. gue lagi pengen sendiri aja.” Jawabku sambil tersenyum.
Tessa mengantarkanku sampai parikiran apartemen, wajahya terlihat sangat
cemas. Namun aku berusaha meyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa. Belum lama aku
pergi johan datang bersama anu ke apartemen, namun mereka tidak menemukan sosok
yang dicari. Ya, akulah yang mereka cari.
“letta mana?”
Tanya anu.
“masih bisa
lu nyariin dia, setelah apa yang lu lakuin ke dia kemarin? Belum cukup kah?”
maki tessa pada anu. Johan merangkul tessa berusaha menenangkan nya.
“neh dia Cuma
nitipin ini ke lu!” lanjut tessa sambil menyerahkan amplop berwana kuning.
Dibukanya amplop itu dengan segera, selembar kertas dengan sedikit coretan di
atasnya.
Bayangan nan
kelam
Kini datang
lagi menghampiriku
Luka lama
yang tak terobati
Kini malah
menginspirasi
Bayangmu tak
dapat hilang dariku
Menghantui
setiap malamku
Memaksaku
untuk mnegingat hal itu lagi..
Lagi.. dan
lagi..
Sejujurnya
aku telah melupakanmu
Membuang
jauh-jauh semua memori tentangmu
Namun
semuanya berputar kembali
Bak film
layar lebar yang tersutradarai
Aku tak tau
rasa ini
Rasa yang
dulu pernah ku beri
Dan kini aku
masih menyimpannya
Menyimpan
rasa itu.. cinta..
Cinta untuk
pacar pertamaku
“ternyata
letta..” anu tertunduk lemas.
“anterin gue
kemana letta pergi..” pinta anu kepada johan dan tessa. Awalnya tessa menolak
namun ia berusaha berfikir jernih mungkin dengan mengungkap semua kebenarannya
akan menjadi lebih baik. Mereka bertiga bergegas menuju puncak, tempat dimana
letta berada.
Sampai disana, mereka melihat aku sedang berada di balkon vila tanpa
pembatas, mataku terpejam, kedua tanganku, ku rentangkan menikmati udara sejuk
dan pancaran matahari yang cahayanya langsung jatuh ke tubuhku. Dari bawah
tessa dan johan terus berteriak memanggil-manggil namaku, namun aku tak mendengarnya. Anu yang terlihat sangat khawatir, langsung
menuju ke atas balkon, ia menarik tanganku dan langsung memelukku. Jelas aku
terperanjat dengan kelakuannya. Erat, hangat dan nyaman, pelukan itu yang aku
rindukan pelukan hangat tujuh tahun yang lalu.
“maaf letta,
maaf.. aku tak tau, aku terlalu bodoh untuk hal ini, dan aku terlalu muna untuk
mengakuinya.. maaf..” anu memelukku semakin erat.
“aku yang
bodoh, aku tak mampu bicara jujur padamu, harusnya aku gak kaya gitu ke kamu, maaf
kan aku..” lagi-lagi air mata ini tak dapat terbendung.
“aletta, I
Love You and I believe you..”
“hmm aku
juga..perasaan itu masih sama seperti yang dulu..” jawabku sambil tersenyum.
Tujuh tahun itu terbalas dengan impas pada hari ini, kami mengawali
hubungan kami lagi dari nol, hari ini, esok dan seterusnya. Umm soal vera, kami
berjanji tak akan pernah membahasnya lagi, anggaplah sebagai angin lalu saja.
Komentar
Posting Komentar