“Cinta Di Negri Sakura”
Tidak mudah untuk bertahan hidup di negeri orang, aku adalah mahasiswa
Indonesia yang sedang menjalani studiku di Tokyo, Jepang.
Aku selalu menggunakan kereta cepat untuk menjangkau asrama tempat tinggalku
menuju ke kampus tempatku belajar, karena jaraknya lumayan jauh. Sore ini aku
pulang terlambat gara-gara tingkah konyolku yaitu berdiri mematung memandangi
sebuah poster besar yang terpampang di dekat stasiun. Bagi orang biasa mungkin
tak ada istimewanya poster itu tapi entah bagiku poster itu sangat istimewa.
Saat itu
tanpa sengaja aku melihat beberapa tukang baru saja selesai memasang poster
yang tingginya melebihi tinggi badanku sendiri. Tiba-tiba saja begitu aku lihat
gambarnya aku langsung tertarik untuk membacanya. Aku berdiri hampir lima belas
menit termenung di depan poster itu, tak tau apa yang terpikirkan di benakku.
Yang jelas aku sangat mengagumi dua orang yang berada dalam poster itu. Aku
terus memandanginya dan membaca tulisan “MotoGP Montegi Jepang” berulang-ulang. Namun lamunanku terbuyarkan oleh seseorang
yang menegurku “excuse me, we want to take that picture”. Tanpa menghiraukannya aku langsung pergi
karna begitu sadar, aku telah tertinggal kereta dan itu artinya aku harus
menunggu sekitar setengah jam lagi.
Dengan lunglai aku duduk di koridor stasiun. Aku membuka-buka kembali
catatan mata kuliah yang diajarkan hari ini.
“excuse me,
can you speak English?” Tanya seorang pria yang langsung duduk di sebelahku.
“yes..what
can I do for you?” jawabku.
Pria itu menanyakan arah kepadaku, ia bilang ia adalah orang spanyol yang
sedang berkunjung ke jepang namun ia tak tau arah. Aku juga sebenarnya tak tau arah namun sedikit banyak aku
taulah karna hampir satu tahun aku tinggal di negri ini. Pria itu kira-kira
lebih tua sedikit dariku, tak terlalu tinggi dan wajahnya pun tak asing untukku
namun aku tak berani menatapnya, hanya pria itu yang selalu berusaha untuk
melihat wajahku. Kami berbicang beberapa hal, sampai kereta yang akan aku
tumpangi tiba.
“Gomenasai..
aku harus pergi, keretaku telah tiba” pamitku.
Laki-laki itu
hanya mengguk tersenyum dan terus memperhatikannku hingga kereta itu jalan.
Hari berikutnya, lagi-lagi aku terpaku di depan poster bersar itu. Dengan
hikmat aku memperhatikan gaya mereka dengan motornya. Dalam hati aku berbisik aku
satu daratan dengan mereka, jika ada waktu akau akan menonton balapan itu.
Tingkah konyolku belakangan ini sering membuat aku terlambat kembali ke asrama.
Tapi aku tak merasa rugi bahkan aku malah menikmatinya.
Aku duduk di koridor dan pria kemarin ada lagi. Ia menyapaku.
“Konichiwa..
ingat aku kan?” tanyanya. Dan aku hanya mengangguk lalu tersenyum. Kami kembali
terlarut dalam obrolan singkat dan aku meninggalkannya ketika keretaku tiba.
Sampai di asrama aku kehilangan buku harian kuningku aku membongkar seisi
kamarku dan hasilnya nihil. Semoga ada di loker kampus pikirku menenangkan
diri. Tapi kalau sampai tak ada dan bahkan jatuh di jalan tamatlah riwayatku,
kataku dalam hati sambil merebahkan diri ke kasur. Buku itu memang tak berarti
apa-apa dan isinya tak begitu penting ketika dibaca karna tak ada hal rahasia
special hanya beberapa hal tentang 2 rider idolaku itu saja, marc marquez dan
valentine rossi. Yang posternya hampir tiap hari aku pandangi baik sebelum
maupun ketika pulang dari kampus.
Keesokan harinya aku bergegas ke loker dan ternyata benar, buku kuning itu
tak ada. Tubuhku langsung lemas rasanya darah berhenti mengalir dan jantung
berhenti berdetak. Sampai saatnya pulang
pun aku masih terus memikirkan kemanakah hilangnya buku itu, tepat di depan
poster besar itu lagi aku hanya berhenti sebentar memandangi mereka dan
langsung beranjak ke stasiun, kereta yang biasa ku tunggu kini sudah berada di
stasiun namun saat aku ingin melangkah ke gerbong ada seseorang yang menarik
tanganku dan membiarkan kereta itu pergi bergitu saja tanpa aku.
“Ressa Carera” panggil pria itu sambil menyodorkan buku harian kuningku
yang hilang tempo hari.
Ah. Rasanya amarah ku yang meletup sudah diujung kepala, reda begitu saja,
bagaikan bara api yang mati karena sebongkah es begitu melihat buku itu. Aku
mendongak ingin sekali melihat wajahnya, siapakah dia? Daann mulutku ternganga
begitu aku melihat sosok pria sebaya, aku tau ia hanya terpaut satu tahun lebih
tua dariku, pria spanyol itu, pria yang beberapa hari ini ngobrol denganku di
koridor stasiun, pria yang menemaniku menunggu kereta dan basa-basi menanyakan
arah. Yah ia pria yang sama, tak lain dan tak bukan ia adalah Marc Alenta
idolaku. Tangannya menarik tanganku dan mendaratkan buku itu di tanganku. Ia
hanya tersenyum, yah senyum itu, aku tau senyum itu senyum manis yang ia
berikan kepada sejuta fansnya kini aku melihatnya sendiri di hadapanku tak
lebih dari 20 centimeter. Sementara itu, aku masih berdiri mematung, berfikir
sejenak mencerna akal sehatku, ini bagaikan mimipi di siang bolong namun jika
ini mimpi aku berharap tak pernah bangun lagi. Ia menarik tubuhku lebih dekat
dan memelukku seraya berkata “ sayonara mata ashita”.
Aku masih mematung, berharap ada
seseorang yang menamparku dan meyakinkanku jika ini benar-benar nyata. Marc
pergi begitu saja, ia berlalu melambaikan tangan sambil tersenyum melihatku
yang masih tanpa ekspresi. Lima menit, yah lima menit sampai tubuh marc
benar-benar hilang dari kasat mataku.
“ya allah,
jika aku berdosa karena aku telah mengaguminya maka ampunilah aku..:(“ kata ku
dalam hati.
Kejadian tadi sore di stasiun benar-benar membuat aku bingung, kenapa?
Bingung antara nyata dan khayalan. Aku buka diary kuning itu masih utuh, semoga
ia tak membacanya. Lembar demi lembar ku bolak balik, di lembar terakhir ada
sebuah tulisan yang aku yakin itu bukan tulisan tanganku. Tulisan itu berbunyi
“Datanglah, aku akan mewujudkan mimpi kecilmu itu” (M.A) dan selembar tiket VIP
motoGP di Montegi minggu depan. “ya allah, dia membaca semuanya, semua yang ku
tulis” di halaman tengah ada tulisan lagi “mampirlah ke paddock ku, aku akan
bicara dengamu setelah selesai race”. Mata ku berkaca-kaca entah apa rasanya
aku tak tau, senang, terharu, malu, bercampur jadi satu. Dia, huh.. yah dia
selama ini yang aku kagumi, allah mempertemukan kami.
Hari-hari berikutnya sebelum race aku tak pernah menemukannya lagi di
stasiun, ia menghilang setelah hari itu, hari dimana dia mengembalikan buku
kuning itu. Mungkin dia sibuk harus latihan mempersiapkan pertandingannya
minggu besok. Yah aku mengerti itu.
Hari minggu, dengan ragu aku menuju sirkuit menempati kursi yang
tertuliskan reserve, aku duduk di situ. Aku melihatnya dengan jelas ia berada
pada pol position barisan grade pertama tempat dimana ia akan memulai belapan.
Dari kursi penonton aku berteriak sekuat tenaga “ganbatte marc..!!!” tak peduli
ia mendengar atau tidak karena disini sangat bising sorak sorai para fans beradu
dengan suara motor 1000cc. Dan balapan pun dimulai. Seperti biasa, tak semudah
itu untuk langsung mendapat posisi pertama selepas start walaupun ia pol
position. Beberapa kali aku melihatnya melaju dengan cepat, cepat secepat
angin. Lap demi lap ia lalui dengan mudah sampai akhirnya ia berhasil
memenangkan balapan ini. Ia sangat hebat seperti biasa seperti seri-seri
sebelumnya ia selalu menang kalaupun tidak ia pasti bisa menapakkan kakinya di
podium, padahal ini tahun pertamanya di ajang
bergengsi ini kelas para raja.
Selasai race, aku memenuhi permintaannya untuk datang ke paddock nya,
menghambur bersama para fans lain, tidak mudah mencari pit box itu, karena
semuanya berjajar rapi hampir sama hanya beda warna. Sampai ku temukan angka 93
di dinding sebuah pit box. Aku yakin dan langsung saja masuk. Seseorang
menghapiriku dan bertanya “you, ressa right?” aku hanya mengguk dan
tersenyum. Yah sepertinya itu salah satu
kru timnya marc, dan mungkin marc telah berpesan kepadanya. Aku dipersilahkan
duduk, selagi menunggu aku mengamati seisi ruangan kecil itu, hanya mesin dan
beberapa alat elektronik yang tak kukenal yang menghiasi ruangan. Tak lama dari
itu marc datang, ia melambaikan tangannya dan aku tesenyum padanya. Lima belas
menit pertama aku masih sabar menunggunya, setengah jam kemudian dan akhirnya
satu jam aku duduk memandangi marc yang sedang berbagi foto dan tandatangan
untuk para penggemar setianya. Dengan sabar dan ramah ia melayani semuanya,
sampai ia tak mempedulikan letih yang ia rasakan. Aku beranjak ingin pergi
namun tangannya menahanku.
“wait a
minutes again” katanya. Aku tak bisa menolak kini aku malah ikut berhambur
bersamanya dan para fansnya. “siapaun nanti yang jadi pacarnya marc, ia harus
benar-benar sabar dan mau tak mau berbagi kasih sayang dengan sejuta fans sang
pacar” kata ku dalam hari sambil memandangi ia dan tersenyum, setelah 2 jam
akhirnya kegiatan itu selesai juga.
Marc mengajakku ke sebuah resto jepang dan kami sedikit banyak ngobrol disana.
“Gomenasai,”
katanya.
“Aku telah
membaca semuanya” lanjutnya.
Raut wajahku
tak lagi kaget, karna aku sudah tau itu.
“iiee..”
jawabku singkat.
“Ternyata kau
tau banyak tentangku yah,, apakah semua fansku sepertimu? Jika iya, aku mungkin
telah berdosa jika tidak mengenalnya satu persatu” marc tertawa. Aku hanya tersipu malu, tak tau mau bicara
apa. Yang jelas kali ini aku benar-benar gugup.
Marc
memandangku dalam dan aku hanya menunduk dihadapannya.
“aku juga
membacanya..”
“ah apa?”tanyaku
kaget.
“iya.. mimpi
kecilmu yang lucu itu..” ia kembali tertawa.
“aku akan
mewujudkannya” tiba-tiba marc meraih tanganku.
Aku bergetar,
perlahan aku menatapnya. Matanya tajam menatapku, seperti ada ketulusan yang
tersirat dari sana.
“bagaimana
caramu mewujudkan mimipiku itu?” aku balik bertanya. Mimpi kecil ku dari dulu
ingin keliling dunia bersama orang yang sayang dan menerima ku apa adanya.
“menikahlah
denganku..” kata marc.
Aku kembali
melihatkan wajah tanpa ekspresi, datar. Aku tak tau apa maksudnya, apakah ia
sedang melamarku? Ah. Aku tak tau tapi jantungku berdebar kencang.
“ehh, apa kau
yakin, ini terlalu cepat bahkan..”
“iya, aku
yakin, aku jatuh cinta padamu saat kau memandangi posterku tempo hari..entah
kenapa aku dapat menyimpulkan ada ketulusan di dalam hatimu yang terpancar dari
matamu. Dan ketika tanpa sengaja aku menemukan buku kuningmu aku membacanya tak
lain lagi isinya hanya tentang diriku dan rossi, dari situ akau semakin
yakin..” ia memotong pembicaraannku.
“tapi.. kita
kan?”
“baru kenal?
Iya.. sebelum menikah aku akan mewujudkan mimpimu sebagai syarat darimu, kau
hanya perlu jadi tunanganku dulu, tenang saja, aku tau kau ingin menyelesaikan
studimu dulu kan?.” Lagi-lagi ia memotongnya.
“aku tidak
meminta marc..” jawabku sambil menunduk. Marc makin mengencangkan genggamannya.
“aku yang
ingin, kamu tak perlu khawatir, jadi?” tanyanya menunggu jawabanku.
“soal ag...”
“yah aku tau,
mugnkin itu yang akan kau pertimbangkan jika kau menerimaku, tapi aku akan
berusaha tidak merubahmu, aku akan menerimamu apa adanya.” Jawabannya begitu
yakin. Tanpa sadarpun aku meneteskan air mata, tak tau kenapa namun ada
perasaan yang bergejolak senang, nyaman dan terharu, ia benar-benar pandai
merangkai kata. Marc memandangku dengan tatapan itu lagi, kali ini matanya
begitu berharap.
“iya..”
jawabku.
“iya, aku
akan menjalani mimpiku bersamamu.” Lanjutku.
Spontan marc
memelukku dan mendaratkan bibirnya di dahiku. Tanda jika aku telah bersedia
menjadi tunangannya dan menemaninya saat race, duduk di paddock memandangi
layar menunggu ia membawa piala kemenangan.
“te amo, te
amo ressa carera” katanya sambil memelukku erat-erat.
“tea mo marc
alenta” balasku yang juga mmelingkarkan tanganku di pinggangnya.
Namun dalam
hati aku berkata, “ya allah, ampuni aku.. ampuni aku karna aku tak dapat
menolaknya, ampuni aku karna aku telah mencintainya...”
NB: “cerita
ini hanya fiktif belaka, hasil dari pemikiran dan khayalan penulis, jika ada
kesamaan nama tempat dan tokoh itu berarti disengaja karena cerita ini curahan
hati penulisnya :D. Tak perlu berfikir panjang cukup baca, tetawa dan komentari
apa adanya hahaha :D”
~ R ~
hahah yassalam... gw sendiri bingung kok gw bisa nulis kaya gini ya? hahah saking kagumnya gw sama dia.. ngefe soalnya wkwk
BalasHapus